Hari ini kita belajar tentang tembang ilir-ilir ciptaan SUNAN KALIJOGO.
Berikut teks lengkap tembang ilir-ilir dalam bahasa Jawa dan artinya dalam bahasa Indonesia :
ILIR – ILIR
Bait Pertama
Lir-ilir, Lir-ilir,
Tandure wus sumilir,
Tak ijo royo-royo,
Tak sengguh penganten anyar.
Bangunlah, bangunlah,
Benih yang ditanam telah tumbuh,
Tumbuh hijau berdaun segar,
Tak Ubahnya seperti pengantin baru.
Bait Kedua
Cah angon–cah angon,
Peneken blimbing kuwi,
Lunyu-lunyu ya peneken,
Kanggo mbasuh dodotiro.
Anak gembala, anak gembala,
Panjatlah belimbing itu,
Walaupun licin, panjatlah,
Buat mencuci pakaian kebesaranmu.
Bait Ketiga
Dodotiro–dodotiro,
Kumitir bedah ing pinggir,
Dondomana jlumatana,
Kanggo seba mengko sore.
Pakaian Kebesaranmu, pakaian Kebesaranmu,
Banyak robekan di pinggirnya,
Jahitlah Perbaikilah,
Buat Menghadap Raja di Senja Hari.
Bait Keempat
Mumpung jembar kalangane,
Mumpung padang rembulane,
Yo suraka, surak hore.
Mumpung masih luas kesempatannya,
Mumpung terang sinar rembulannya,
Ayo teriak, teriak hore.
Apa makna tersirat dari tembang ilir-ilir tersebut?
Tembang ini mengandung nasihat kepada anak gembala (bocah angon) sebagai perlambang seorang pemimpin. Pemimpin disini tidak terbatas kepada pemimpin keluarga, tetapi juga termasuk pemimpin masyarakat dan pemimpin negara. Dalam kajian lain juga diungkap bahwa seorang pribadi muslim secara hakekat merupakan Ra'in (pemimpin) minimal memimpin dirinya sendiri selaku halifah Fil Ardhi, dan akan dimintai pertanggungjawab di Yaumil Akhir nanti. Tembang ini berisi nasihat bagaimana menjadi muslim yang baik.
Makna Bait Pertama
Lir-ilir berasal dari kosa kata bahasa Jawa yaitu ngelilir, yang artinya terjaga/bangun dari tidur. Maksudnya ialah, orang yang belum kaffah (sempurna/lengkap) masuk dan melaksanakan ajaran agama Islam dikatakan sebagai masih tidur/belum sadar. Oleh karenanya diharapkan untuk segera bangun/terjaga menuju Islam sebagai alam pemikiran baru.
Makna Bait Kedua
Secara hakekat, manusia di alam arwah ruh) sebelum lahir ke dunia yang tak berkekalan ini telah memiliki benih Iman kepada Allah SWT dengan bersyahadah/bersaksi bahwa Allah SWT sebagai Tuhannya.
Jika seorang muslim menyadari keberadaan benih iman dalam dirinya dan merawat dengan baik, melalui :
Menegakkan Sholat
Mengucap dua kalimah Syahadat Membayar Zakat Puasa di Bulan Ramadhan Melaksanakan Haji jika telah memiliki kemampuan fisik dan finansial.
Meskipun licin, tetap diperintahkan untuk memanjat pohon dan mengambil buah belimbing mengandung makna meskipun ada hambatan, tantangan dan gangguan, seorang anak gembala (pemimpin) harus melaksanakan LIMA RUKUN ISLAM.
Perintah diberikan kepada anak gembala karena mereka menjadi pemimpin atas orang lain dan juga harus memimpin dirinya sendiri mengendalikan hawa nafsunya. Nafsu yang dimiliki seseorang apabila tidak dikendalikan, akan merusak diri sehingga tidak menghiraukan lagi batas antara halal dan haram. Jika nafsu selalu dituruti, akan tumbuh pribadi yang rakus dunia dan tidak perduli apakah tindakannya itu mendholimi diri sendiri dan orang lain. Baginya yang penting bisa tidak perduli apakah orang lain meneteskan airmata menangis sedih karena tindakannya.
Makna Bait Ketiga
Buah belimbing diraih, disebutkan untuk mbasuh dodotiro atau mencuci pakaian kebesaran.
Seperti diketahui, dodot adalah pakaian kebesaran di lingkungan kraton yang digunakan pada waktu menghadap Raja. Belimbing sebagai simbol LIMA RUKUN ISLAM diraih atau dilaksanakan, guna mensucikan pribadi seseorang, sehingga pada waktu menghadap Allah SWT Sang Penguasa dan Maha Raja di Hari Akhir, dalam keadaan bersih dan suci.
Kalau pribadi seseorang masih memiliki kekurangan, hendaklah dirawat dan diperbaiki dengan jalan selalu berzikir mengingat Allah SWT, melaksanakan perintah dan menjauhi larangan, serta tak lupa selalu istighfar memohon ampunan dari Sang Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Dengan demikian pada waktu wafatnya(disimbolkan dengan "sore"=akhir perjalanan manusia) seseorang sudah siap dengan pakaian kebesarannya berupa pribadi yang tenang (Nafsul Muthma'innah) dengan mendapat predikat Khusnul Khatimah.
Makna Bait Keempat
Selagi masih banyak kesempatannya dan terang sinar rembulannya, menerangkan tentang jangan melalaikan atau melewatkan kesempatan berupa kesehatan badan dan fikiran untuk melaksanakan LIMA RUKUN ISLAM, selagi masih ada cukup waktu untuk bertaubat.
Akhirnya setelah melaksanakan LIMA RUKUN ISLAM tadi, seorang muslim akan berbahagia memperoleh buah dari pekerti baiknya selama ini dan diekspresikan dengan teriakan HORE.
Akhir perjalanan seorang muslim (anak gembala) diharapkan Khusnul Khatimah dengan beroleh ganjaran dari ALlah SWT berupa Syurga.
Semoga Allah SWT senantiasa menuntun perjalanan hidup kita dengan Hidayah, Taufik dan Inayah-NYA.
Amiin Yaa Robbal 'Alamiin
Berikut teks lengkap tembang ilir-ilir dalam bahasa Jawa dan artinya dalam bahasa Indonesia :
ILIR – ILIR
Bait Pertama
Lir-ilir, Lir-ilir,
Tandure wus sumilir,
Tak ijo royo-royo,
Tak sengguh penganten anyar.
Bangunlah, bangunlah,
Benih yang ditanam telah tumbuh,
Tumbuh hijau berdaun segar,
Tak Ubahnya seperti pengantin baru.
Bait Kedua
Cah angon–cah angon,
Peneken blimbing kuwi,
Lunyu-lunyu ya peneken,
Kanggo mbasuh dodotiro.
Anak gembala, anak gembala,
Panjatlah belimbing itu,
Walaupun licin, panjatlah,
Buat mencuci pakaian kebesaranmu.
Bait Ketiga
Dodotiro–dodotiro,
Kumitir bedah ing pinggir,
Dondomana jlumatana,
Kanggo seba mengko sore.
Pakaian Kebesaranmu, pakaian Kebesaranmu,
Banyak robekan di pinggirnya,
Jahitlah Perbaikilah,
Buat Menghadap Raja di Senja Hari.
Bait Keempat
Mumpung jembar kalangane,
Mumpung padang rembulane,
Yo suraka, surak hore.
Mumpung masih luas kesempatannya,
Mumpung terang sinar rembulannya,
Ayo teriak, teriak hore.
Apa makna tersirat dari tembang ilir-ilir tersebut?
Tembang ini mengandung nasihat kepada anak gembala (bocah angon) sebagai perlambang seorang pemimpin. Pemimpin disini tidak terbatas kepada pemimpin keluarga, tetapi juga termasuk pemimpin masyarakat dan pemimpin negara. Dalam kajian lain juga diungkap bahwa seorang pribadi muslim secara hakekat merupakan Ra'in (pemimpin) minimal memimpin dirinya sendiri selaku halifah Fil Ardhi, dan akan dimintai pertanggungjawab di Yaumil Akhir nanti. Tembang ini berisi nasihat bagaimana menjadi muslim yang baik.
Makna Bait Pertama
Lir-ilir berasal dari kosa kata bahasa Jawa yaitu ngelilir, yang artinya terjaga/bangun dari tidur. Maksudnya ialah, orang yang belum kaffah (sempurna/lengkap) masuk dan melaksanakan ajaran agama Islam dikatakan sebagai masih tidur/belum sadar. Oleh karenanya diharapkan untuk segera bangun/terjaga menuju Islam sebagai alam pemikiran baru.
Makna Bait Kedua
Secara hakekat, manusia di alam arwah ruh) sebelum lahir ke dunia yang tak berkekalan ini telah memiliki benih Iman kepada Allah SWT dengan bersyahadah/bersaksi bahwa Allah SWT sebagai Tuhannya.
Jika seorang muslim menyadari keberadaan benih iman dalam dirinya dan merawat dengan baik, melalui :
Menegakkan Sholat
Meskipun licin, tetap diperintahkan untuk memanjat pohon dan mengambil buah belimbing mengandung makna meskipun ada hambatan, tantangan dan gangguan, seorang anak gembala (pemimpin) harus melaksanakan LIMA RUKUN ISLAM.
Perintah diberikan kepada anak gembala karena mereka menjadi pemimpin atas orang lain dan juga harus memimpin dirinya sendiri mengendalikan hawa nafsunya. Nafsu yang dimiliki seseorang apabila tidak dikendalikan, akan merusak diri sehingga tidak menghiraukan lagi batas antara halal dan haram. Jika nafsu selalu dituruti, akan tumbuh pribadi yang rakus dunia dan tidak perduli apakah tindakannya itu mendholimi diri sendiri dan orang lain. Baginya yang penting bisa tidak perduli apakah orang lain meneteskan airmata menangis sedih karena tindakannya.
Makna Bait Ketiga
Buah belimbing diraih, disebutkan untuk mbasuh dodotiro atau mencuci pakaian kebesaran.
Seperti diketahui, dodot adalah pakaian kebesaran di lingkungan kraton yang digunakan pada waktu menghadap Raja. Belimbing sebagai simbol LIMA RUKUN ISLAM diraih atau dilaksanakan, guna mensucikan pribadi seseorang, sehingga pada waktu menghadap Allah SWT Sang Penguasa dan Maha Raja di Hari Akhir, dalam keadaan bersih dan suci.
Kalau pribadi seseorang masih memiliki kekurangan, hendaklah dirawat dan diperbaiki dengan jalan selalu berzikir mengingat Allah SWT, melaksanakan perintah dan menjauhi larangan, serta tak lupa selalu istighfar memohon ampunan dari Sang Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Dengan demikian pada waktu wafatnya(disimbolkan dengan "sore"=akhir perjalanan manusia) seseorang sudah siap dengan pakaian kebesarannya berupa pribadi yang tenang (Nafsul Muthma'innah) dengan mendapat predikat Khusnul Khatimah.
Makna Bait Keempat
Selagi masih banyak kesempatannya dan terang sinar rembulannya, menerangkan tentang jangan melalaikan atau melewatkan kesempatan berupa kesehatan badan dan fikiran untuk melaksanakan LIMA RUKUN ISLAM, selagi masih ada cukup waktu untuk bertaubat.
Akhirnya setelah melaksanakan LIMA RUKUN ISLAM tadi, seorang muslim akan berbahagia memperoleh buah dari pekerti baiknya selama ini dan diekspresikan dengan teriakan HORE.
Akhir perjalanan seorang muslim (anak gembala) diharapkan Khusnul Khatimah dengan beroleh ganjaran dari ALlah SWT berupa Syurga.
Semoga Allah SWT senantiasa menuntun perjalanan hidup kita dengan Hidayah, Taufik dan Inayah-NYA.
Amiin Yaa Robbal 'Alamiin
2 komentar:
Assalamu'alaikum wr.wb
Ya..ALLAH artikelnya sungguh sangat bagus sekali, memang dalam hidup ini kita mesti sadar dan banyak-banyak bersyukur, semoga ALLAH selalu melimpahkan rahmat dan hidayahnya ke pada kita semua. AMIN...
Salam kenal kenal dari saya yang bodoh ini Pak Kiai.
Wassalammu'alaikum wr.wb
Jadi orang baik memang susah, namun setiap hari kita harus berjuang memperbaiki diri.
Sayang sekali, orangtua di era digital ini lebih sibuk menonton sinetron daripada bercerita tentang makna kehidupan. Ini fenomena alam yang sangat memprihatinkan.
Poskan Komentar